“Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.”
Itulah kalimat yang terlintas di pikiran saya pertama kali begitu membaca buku ini. Sederhana memang, tetapi mengandung arti yang sangat banyak dan mendalam menurut saya.
Ya! Steve Jobs lah orangnya!
Seorang pria yang berasal dari keluarga kecil dan sederhana. Orangtua kandungnya memutuskan untuk ‘memberikan’ ia kepada keluarga yang mau mengadopsinya, dengan tujuan agar ia mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang hebat. Singkat cerita, pria yang tidak menyelesaikan kuliahnya ini mampu membuat suatu inovasi yang dikagumi banyak orang hingga saat tulisan ini dibuat. Bagaimana tidak? Anda lihat saja berbagai macam gadget yang menghiasi tangan orang-orang yang ‘haus’ akan teknologi. Bagaimana produk yang ia ciptakan dipergunakan hampir semua golongan, mulai dari pejabat pemerintahan Amerika Serikat, musisi, seniman, pengusaha, bahkan hingga kalangan anak-anak SMA di Indonesia yang berlomba untuk terlihat ‘keren’ dengan menenteng gadget berlogo buah apel tergigit itu.
Saya menulis ini bukan dengan maksud apa-apa, tapi hanya ingin menyampaikan pendapat saya tentang apa yang telah saya baca di buku itu. Dan menurut saya, seorang Steve Jobs memang telah melakukan sebuah perubahan besar dalam teknologi peradaban manusia. Walaupun ia tidak lulus kuliah, tetapi kemauan dan kemampuannya dapat diwujudkan dengan cara menciptakan berbagai macam alat yang sangat canggih, bahkan mungkin di luar nalar pikiran kita (apabila kita kembali pada zaman dimana dia mulai mendirikan Apple).
Kematiannya pada waktu sehari setelah peluncuran iPhone 4S itu mungkin yang menarik perhatian saya dalam bagian buku ini. Entah itu sudah dipikirkan oleh Steve atau belum, tapi memang kata-kata “iPhone 4S” itu terlihat sangat berarti dalam. Di dalam buku ini dijelaskan maksud dari kata-kata “iPhone 4S” itu berarti “iPhone 4 (for) Steve”. Dan memang benar! Sehari setelah peluncuran resmi iPhone 4S oleh pihak Apple, Steve Jobs meninggal dunia. Setelah selama delapan tahun ia bergelut dengan penyakit kanker pankreasnya. Kematiannya mengundang kesedihan mendalam semua lapisan masyarakat di seluruh dunia. Mulai dari Presiden Amerika Serikat, rekan kerja Steve, saingan bisnis, dan mungkin hingga orang-orang yang hanya sekedar berpendapat “Oh..Apple toh.. Pantesan Mahal..” ikut sedih atas kepergian sang inovator hebat itu.
Kalimat “Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.” yang dikatakan Steve memang mengandung makna yang sangat dalam. Mungkin secara tidak langsung Steve ingin menyampaikan bahwa untuk meraih sesuatu, kita perlu untuk ber-mindset selalu “Tetap Lapar dan Bodoh”. Coba pikir, apabila kita selalu merasa “Tetap Lapar”, mungkin kita akan selalu terpacu untuk mencari makan. Dan untuk mencari makan itu kita harus membeli dengan menggunakan uang. Uang itu pun harus kita dapatkan dengan cara bekerja keras. Selain itu, apabila kita selalu merasa untuk “Tetap Bodoh” maka kita akan terus terpacu untuk selalu belajar, belajar, dan belajar. Jadi pada intinya, kalimat “Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.” itu merupakan suatu pesan dari sang inovator agar kita terus BEKERJA KERAS dan BELAJAR!
JENIUS!
Walaupun saya bukan pengguna produk Apple, tapi saya tetap mengakui kehebatan dari gadget berlogo apel tergigit itu. Karena saya sering bergelut dengan bidang musik dan grafis, maka saya bisa mengatakan kalau gadget Apple itu memang sangat brilian! Semua kebutuhan manusia bisa ‘diladeni’ dengan hanya menyentuhkan jari pada layarnya. Kreatif dan inovatif! Atau mungkin dengan bahasa lain bisa dikatakan seperti ini: “Apa sih yang gak bisa dilakuin dengan Apple? Bikin musik? Gampang! Bikin video? Gampang! Desain grafis? Gampang! Gimana gak keren tuh?!”. Dan jujur, sampai saat tulisan ini ditulis pun saya masih bermimpi untuk bisa memiliki sebuah gadget keluaran Apple tersebut untuk keperluan bermusik dan berkreasi saya.
Mungkin itulah beberapa pendapat saya setelah membaca buku ini. Buku ini sangat inspiratif, terutama untuk orang-orang yang ingin maju dan menciptakan sesuatu yang Out Of The Box. Tidak ada yang tidak mungkin dengan gadget Apple.
Terlepas dari gadget-nya, semoga kita semua bisa terus merasa dan berpikir untuk…..
“TETAPLAH LAPAR. TETAPLAH BODOH.”

No comments:
Post a Comment